Kedudukan Wanita Pada Masa Sebelum Datangnya Islam

Yang dimaksud dengan masa sebelum datangnya Islam adalah masa jahiliyah yang dialami oleh bangsa Arab Kuno khususnya dan umat mausia di kala itu pada umumnya. Secara umum, wanita di waktu itu hidup dalam masa yang serba rumit, terutama di lingkungan masyarakat Arab. Mereka tidak menghendaki kelahiran wanita. Diantara mereka ada yang mengubur wanita hidup-hidup hingga mati di kolong tanah. Sementara yang lain membiarkannya hidup, namun dalam kehidupan yang hina dan nista.

Keadaan seperti ini tidak saja dialami oleh wanita-wanita Arab pada masa itu. Namun, wanita-wanita pada jaman Romawi Kuno, Roma, Parsi, India, dan Tionghoa juga mengalami hal yang sama.

Mengenai hal ini Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl:58

“Dan Apabila seseorang di antara mereka dikaruniai (kelahiran) anak perempuan, murunglah wajahnya dan ia sangat jengkel penuh kemarahan. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, lantaran buruknya apa yang diterimanya. Adakaha ia akan memeliharanya dengan menanggung enistaan, ataukah akan mengubrukannya (hidup-hidup) di kalang tanah? Ketahuilah betapa buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. AN-Nahl:58)

Wanita pada masa itu tidak mendapatkan sedikitpun bagian harta pusaka dari kerabatnya, meskipn kerabatnya itu kaya sedang ia dililit kefakiran dan dihimpit kebutuhan. Karena mereka hanya memberikan harta waris kepada lelaki. Bahkan, jika suaminya meninggal dunia, wanita itu pun dianggap sebagai harta yang dapat diwarisi sebagaimana harta suaminya.

Naudzubillahimindzalik…

Kutipan diatas dapat menggambarkan kondisi wanita jaman sekarang, wanita hanya sebagai wujud pelampiasan nafsu saja. Selanjutnya mari kita baca, pahami, dan resapi kutipan di bawah ini mengenai kedudukan wanita dalam Islam.

Kedudukan Wanita Dalam Islam

Tatkala Islam datang, dihapuslah penindasan terhadap wanita. Islam datang untuk memanusiakan wanita. Allah berfirman:

“Hai segenap manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan.” (QS. Al-hujurat:13)

1. Dalam Islam wanita adalah mitra lelaki, sebagaimana ia sama dengan lelaki dalam hal perolehan pahala dan siksa atas suatu perbuatan.

Sama dengan lelaki disini sudah jelas maksudnya, dalam hal perolehan pahala dan siksa atas perbuatan baik dan buruk semua nilainya sama tidak ada beda antara wanita atau lelaki.

2. Dalam QS. An-Nisa:19, Diharamkan menjadikan wanita sebagai harta benda milik suami yang jika suami itu meninggal, dapat diwarisi sebagaimana halnya harta benda yang lain.

Inilah yang disebut memanusiakan wanita. Karena wanita juga makhluk ciptaan-Nya. Dari rahim seorang wanita lahirnya manusia baru yang bersih dari segala dosa, siapa berani mengatakan bahwa kelahiran anak perempuan merupakan sebuah kenistaan sehingga harus dikubur hidup-hidup, Naudzubillahimdzalik…😦

3. Dalam QS. An-Nisa’:7 dan 11, Allah swt menjamin independensi wanita sebagai pribadi. Dijadikan-Nya ia pewaris, bukan benda yang dapat diwarisi. Allah swt juga menentukan untuknya bagian tertentu dalam mewarisi harta kerabatnya.

Islam telah  menguraikan secara lengkap segala hal tentang hak waris untuk pria dan wanita. Dan hal itu merupakan tanggung jawab bersama, agar segala apa yang dititipkan Allah swt dapat dimanfaatkan dengan baik dan dibagikan secara adil kepada yang membutuhkan.

4. Dalam QS. An-Nisa’:19, Dalam hal mempersunting wanita, Allah membatasi dibolehkannya memperisteri wanita hanya empat, sebagai batas maksimal, dengan syarat memperlakukannya secara adil seoptimal mungkin dan mewajibkan menggauli mereka secara ma’ruf (baik menurut Agama).

Nah, mengenai hal ini, banyak lelaki menggunakannya sebagai dasar agar dapat memiliki istri lebih dari satu, kebanyakan karena memiliki banyak harta. Tapi ditanya soal adil atau tidak? Manusia mana yang bisa dengan sempurna dan tau bahwa dia telah berbuat adil? No offense lah… Menurut saya kalau memang banyak uang.. kenapa gak bangun mesjid atau pesantren atau membantu fakir miskin yang lain? Masih banyak yang lebih membutuhkan…🙂

5. Dalam QS. An-Nisa’:4, Allah menjadikan mahar (mas kawin) sebagai hak isteri dan memerintahkan untuk diberikan kepadanya secara penuh, kecuali jika ia, dengan lapang dada merelakan sebagiannya.

Mahar adalah pemintaan calon isteri kepada calon suami… Ingatlah, sebagai seorang wanita muslim yang baik, nilai mahar baik besar atau kecil tidak menentukan harga seorang gadis. Wanita yang sholeh akan meminta nilai mahar yang kecil. Atau dengan hanya meminta mahar berupa ayat Al-Qur’an itu lebih baik… dan merupakan tanggung jawab yang besar untuk seorang lelaki jika ia memberi mahar seperti itu😀

6. Sabda Rasulullah SAW “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung jawabannya tentang yang dipimpinnya.”

Menjadi seorang pemimpin sangatlah berat. Segala hal yang menjadi amanah kita akan dimintai pertanggungjawabannya diakhirat kelak. Pria dan Wanita adalah partner, saling berkerja sama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dalam rumah tangga dan kehidupan. Semoga Kutipan hari ini bisa menjadi pedoman dan pengetahuan kita semua bahwa Islam begitu sempurna dan indah. SUBHANALLAH…

Referensi :
Sentuhan Nilai Kefikihan Untuk Wanita Beriman, oleh Syekh Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
Penerjemah: Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s