Tertular Kutil Kelamin dari Pacar

Kompas.com – Jerawat di wajah pasti meresahkan si empunya, apalagi jika tumbuh di vagina. Pastilah lebih menyusahkan. Itulah yang dirasakan Ratna (bukan nama sebenarnya), janda berusia 37 tahun.

Bulan November 2009 ia menemukan bintil-bintil seukuran jerawat di lubang vaginanya. Sempat mengira bintil itu hanya akibat iritasi, Ratna tak mau mengambil risiko. “Saya ini tipe orang yang langsung periksa ke dokter kalau ada gangguan sekecil apa pun masalahnya. Orang lain mungkin menganggap jerawat di vagina sepele, bagi saya tidak,” ungkap Ratna.

Pada pemeriksaan pertama itu Ratna tidak mendapat keterangan apa pun mengenai penyakitnya. Dokter hanya menyarankan agar Ratna menjalani biopsi lanjutan untuk mengetahui apa sebenarnya bintil tersebut. Ia diminta menunggu hasilnya seminggu.

“Tapi, saat itu juga saya mendapat tindakan laser untuk menghilangkan bintil tersebut,” katanya. Setelah seminggu hasil biopsi menyatakan bahwa Ratna mengalami kutil kelamin atau kondolima akuminata. Kutil itu disebabkan Human Papiloma Virus (HPV), yang didapatkan dari hubungan seksual. HPV ini bisa menular lewat gesekan kulit yang tidak terlindung oleh kondom.

Saat itu Ratna masih tenang karena merasa sudah mengatasinya dengan laser. Ternyata sebulan kemudian kutil itu muncul lagi. Di tempat yang sama pula. Ia pun mendatangi dokter dan mendapat jawaban yang membuat syok.

“Kata dokter, penyakit ini tidak bisa bisa disembuhkan. Kalaupun kutilnya hilang, dia bisa kembali sewaktu-waktu ketika daya tahan tubuh menurun. Virusnya bersembunyi di dalam tubuh, sembari menunggu waktu untuk kambuh lagi. Parahnya, penyakit ini akrab dengan pelacur,” ujarnya jengkel.

Tidak puas dengan jawaban satu dokter, ia mencari opini dari tiga dokter dan menjelajah informasi di internet. Hasilnya sama saja. Semua mengatakan virus ini tidak bisa dihilangkan dari tubuhnya.

“Malah beberapa sumber mengatakan kulit ini bisa berubah jadi kanker mulut rahim jika tidak ditangani dengan serius. Tambah panik saya,” lanjutnya. Kenyataannya, kutil itu tumbuh kembali. Sudah tiga bulan berturut-turut Ratna mendapat tindakan laser.

“Capek bolak-balik ke dokter untuk dilaser. Mahal pula biayanya. Saya stres dan tersadar bahwa hanya hubungan seksual yang bisa menyebabkan seperti ini,” katanya.

Ratna mengakui, setelah kematian suaminya, ia menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. “Saya hanya beberapa kali berhubungan seks dengan pacar. Dia baik dan santun. Ternyata saya tertular dari dia. Akhirnya saya sadar, kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Bisa saja pria itu sudah sering main perempuan dan tertular HPV. Pria kan hanya pembawa saja, yang kena pihak wanita,” ujar Ratna.

Menyadari HPV ini tidak bisa dimusnahkan, Ratna stres. Ia pun menyimpulkan bahwa yang harus dimusnahkan bukan kutilnya, melainkan virusnya. Jadilah setiap hari ia mencari informasi mengenai cara membasmi virus tersebut.

Mengandalkan informasi dari internet, Ratna mendapat petunjuk untuk menghilangkan HPV dengan pengobatan alternatif menggunakan ramuan herbal dan hewani.

Dari pengalaman pahit ini Ratna sungguh belajar dan bertekad lebih berhati-hati mengawasi kedua anaknya. “Jangan sampai sembarangan berhubungan seksual. Kalaupun menggunakan kondom tidak banyak membantu. Pokoknya say no to free sex,” sebutnya. (GHS/mic)

Sumber Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s