Tips untuk memberi nama anak

Tip untuk memberi nama :
Oleh Isa Alamsyah

Nama anak untuk siapa?
Oleh Asma Nadia dan Isa Alamsyah

Ketika SMP, saya punya rekan bernama “Sukar”.
Seringkali namanya menjadi bahan tertawaan atau setidaknya menggelitik setiap kali guru mengabsen. Kadang ia jadi bahan olokan. Tak jarang ia dipanggil “Sulit”, “Susah “ dan sebagainya.
Pernah suatu saat saya tanyakan kenapa dia bernama demikian. Dia bercerita bahwa ketika lahir dia sukar keluar sehingga orang tuanya memberi nama “Sukar”.

Belum lama ini saya berkenalan dengan seorang supir mobil rental yang saya sewa di Makasar. Namanya Fajar. Tapi teman-temannya memanggilnya Infus. Setelah saya tanya kenapa dipanggil Infus. Ternyata nama aslinya dari orang tua memang infus. Nama Fajar adalah nama dari hotel tempat bekerja, karena nama Infus suka mengundang pertanyaan klien. Ia juga pernah dimarahi polisi karena ketika mengurus SIM bilang namanya Infus, dikira polisi main-main. Berkali kali ia meyakinkan namanya Infus sampai menujukkan KTP-nya. Begitupun polisi masih setengah percaya.
Ternyata waktu bayi ia sakit-sakitan sampai hidupnya tergantung infus. Dari situlah orang tuanya memberi nama infus.

Pada akhir tahun 1990 – ketika Saddam Hussein menginvasi Kuwait, dengan licik Sadam mengubah isu menjadi penjajahan menjadi perjuangan membela Palestina dengan merudal Scud ke Israel. Banyak yang simpati sehingga ribuan bayi yang lahir diberi nama Saddam Husein. Lalu 14 tahun kemudian Saddam tertangkap, setelah berhari-hari lari dalam lubang persembunyian. Ia meninggal di tiang gantungan.
Pertanyaannya, remaja 14 – 15 tahun yang bernama Saddam, apakah merasa bangga atau dipermalukan identitasnya? Terlepas itu arogansi Amerika, tapi Sadam juga ngak bagus-bagus amat.

Pernah juga saya mendengar seorang anak bernama Gusur Soeharto. Kabarnya ayahnya seorang aktivis yang anti Suharto. Karena namanya, anak tersebut mendapat banyak hambatan dalam karirnya. (mungkin sekarang udah nggak ada masalah).

Pertanyaan sekarang adalah?
Untuk siapakah nama anak kita berikan?
Apakah nama anak hanya sekedar mengingat peristiwa bagaimana ia dilahirkan?
Sering kan nama anak diambil dari nama dokternya.
Apakah nama anak sekedar mengingat peristiwa penting ketika orang tua bertemu orang penting saat itu?
“Oh Pak Menteri, kebetulan anak saya baru lahir, saya akan beri nama dari nama Anda!”
Masalahnya kalau kemudian menteri itu dikenal sebagai koruptor, anak kita menanggung nama itu selamanya.

Apakah nama hanya untuk masa lalu?
Atau sekedar pengingat masa sementara sekitar peristiwa kelahirannya?
Atau untuk masa depannya?

Kami sendiri memberi nama akan-anak kami untuk masa depan bukan masa lalu, bukan masa kini. Karena mereka adalah milik masa depan.

Intinya pikirkan matang-matang nama anak Anda, pikirkan nama itu untuk masa depan mereka, karena mereka akan hidup selamanya dengan nama itu.
Karena nama adalah identitas pertama mereka.
Jangan gampangkan untuk ngasih nama.

Di kutip dari buku :
Catatan Hati Bunda karya Asma Nadia
(Tersedia di Gramedia dan toko buku lainnya)
Buku ini adalah buku parenting yang berisi catatan Asma Nadia dan Isa Alamsyah membesarkan Putri Salsa yang di usia 14 tahun sudah menerbitkan 5 buku dan Adam Putra Firdaus (8 tahun) yang juga sudah mulai menulis buku.

Untuk melihat bukunya silahkan buka link http://bit.ly/4O03wF
Untuk membaca komentar mereka yang sudah membaca bukunya silahkan http://bit.ly/6RXbU0
Bagi yang membaca artikel ini pada PC mohon memberi komentar di Komunitas Bisa! Tab Discussion di link http://bit.ly/4W1dk7

Tip untuk memberi nama :
Oleh Isa Alamsyah

Tip 1 Pilih nama yang baik. Baik maknanya, baik pula nilai spiritualnya.
Kadang orang bernama baik bisa malu pada namanya sendiri kalau berkelakuan buruk.
“Kamu nama Iman, kok kelakukan gak ada imannya”
“Nama Rahman, kok kelakuan menindas!”
Di Priok ada anak bernama Panjul, ada juga Pengki (tempat sampah) – 1 kata, karena orang tuanya lucu-lucuan dan merasa gampang nyuruh nyuruh kedengaran lucu.
“Njul, ambilin rokok!” lucu kan…? Gila!

Ketika memberi nama :
Bayangkan kalau nama itu di jadiin nama orang top enak nggak ya?
Kalau buat pemilihan (kali dia jadi calon Presiden) punya daya tarik nggak ya?
Pantas nggak?
Boleh dong orang tua berpikir besar.

Tip 2 Pilih nama yang unik.
Unik bukan berarti aneh. Tiga nama biasa kalau di kombinasikan bisa jadi nama unik.
Nama unik membuat mereka special, tidak pasaran, dan bagus untuk pemasaran dan karir masa depan .
Kalau digoogling langsung keluar nggak namanya?
Jangan pilih nama sejuta umat, udah 2 kata atau 4 kata tapi kombinasinya sama di mana-mana. Di googling nggak ketemu2.
Kalau perlu waktu mau kasih nama googling di internet, jangan-jangan udah pasaran.

Tip 3 Jangan rumit-rumit
Kalau bisa jangan yang pilih yang rumit-rumit. Saya punya teman ngambil nama dari Perancis dan hampir setiap kali saya tulis namanya salah melulu, dia sering ngomel. Orang lain juga pada salah setiap menulis namanya. Ini yang salah siapa ya?

Tip 4 Pilih 2 kata atau 3 kata (Jangan 1 kata, jangan 4 kata)
Kalau bisa nama jangan satu kata, sebaiknya dua kata atau maksimal 3 kata. Karena anak kita akan kesulitan mengisi formulir standar internasional.

Di seluruh dunia, kecuali di Indonesia, nama keluarga merupakan hal yang lumrah jadi selalu ditanyakan dalam formulir.
Di dunia dikenal ada first name, middle name dan last name. (Last name biasanya nama keluarga, tapi bukan nama keluarga juga nggak apa tapi selalu dianggap nama keluarga secara internasional baik di Barat, Cina, Jepang)

Di seluruh dunia, hampir tidak ada orang yang namanya terdiri dari satu kata, cuma di Indonesia. Informasi ini beberapa tahun lalu saya dengar dari seorang wartawan senior dari Amerika yang sudah keliling dunia. Dia kaget nama saya hanya terdiri dari 1 kata, dan dia bilang di manapun di seluruh dunia yang dia kunjungi ada nama keluarga. Only ini Indonesia yang satu nama. Nama saya Alamsyah saja, jadi susah ngurus apa-apa ke luar negeri. Saya tambahkan nama panggilan Isa – yang menurut saya adalah nama temuan sendiri ketika kecil – sekedar membuat perbedaan ketika googling, dsb. Tapi itu tidak bisa dipakai di dokumen resmi.

Anak pertama kami terdiri 4 kata, karena akan ribet akhirnya di ijazah saya minta nama pertama dan kedua digabung jadi satu kata sehingga go internasionalnya gampang.
Untung anak kedua 3 kata.
Dulu saya tidak punya pengetahuan ini.
Jadi beruntunglah yang belum terlambat. (2 atau 3 kata)

Tip 5 Sebaiknya jangan mengambil nama dari tokoh yang masih hidup
Kalau mengambil nama dari orang yang masih hidup, pejabat presiden atau apapun , apalagi nama artis (jangen deh).
Karena kalau ending orang tersebut buruk anak akan terpengaruh.
Kalau orangnya sudah meninggal kita sudah bisa tahu endingnya.
Saya kenal seorang Kolonel yang bertugas di Timtim dan nama nya dijadikan nama anak-anak di sana, ternyata Timtim lepas dari Indonesia dan saya pikir orang tua anak Timtim tersebut pasti bingung harus bagaimana.

Tip 6 Jangan terjebak huruf apa dulu
Kalau depannya A biasanya dipanggil duluan setiap tes, kalau depannya Z dipanggil duluan kalau gurunya iseng membalik, tapi kalau namanya M-N (tengah) juga dipanggil duluan kalau gurunya tahu biasanya A dan Z yang dipanggil.
Jadi ngak usah pikirin abjad namanya yang mana.
Banyak orang tua yang terjebak dengan tradisi huruf keluarga. Anak kami semua harus F, G, H, dsb. Terserah saja sih. Tapi jangan karena itu kita jadi terpaku hingga membuang alternatif yang lebih baik.

Tip 7
Kalau bisa disiapkan untuk go Internasional (Bukan berarti kebaratbaratan lho)
Tapi itu sih terserah, orang Jepang namanya gak ada yang internasional, tapi banyak yang go Internasional juga.
Sekarang dengan adanya isu terorisme beberapa nama bahkan didefinisiikan nana-nama teroris atau nama yang ramah. Anda boleh tidak setuju, tapi itu faktanya.

Source: Bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s