SUDAHKAH KITA BERBAKTI PADA ORANG TUA?

SUDAHKAH KITA BERBAKTI PADA ORANG TUA?
By: Any Andshabell

Maya dan Alfian adalah pasangan muda yang bahagia. Kebahagiaan mereka semakin lengkap setelah hadirnya seorang putri cantik nan cerdas dan lincah. Mereka memberinya nama Salsabila, nama sebuah mata air di surga, yang disebutkan Al Qur’an dalam surat Al-Insan ayat 18, dengan harapan agar nantinya Salsa, nama panggilan Salsabila, menjadi anak shalihah yang dapat masuk surga dan menikmati segarnya mata air salsabila di sana.

Suatu sore Maya dan Alfian mengajak Salsa ke supermarket. Sambil jalan-jalan menikmati akhir pekan, mereka belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan gaya seperti orang dewasa, Salsa, gadis kecil lima tahun yang jiwa imitatifnya tampak sangat menonjol itu memilih-milih barang, menirukan apa yang dilakukan ibunya. Ketika melewati deretan peralatan rumah tangga, Salsa mengambil dua buah piring, dua buah gelas dan dua buah sendok yang semuanya terbuat dari bahan plastik, lalu memasukkannya ke dalam keranjang sang ibu.

“Piring, gelas dan sendoknya buat apa?” tanya Maya sekedarnya, sebab sebenarnya ia sudah menebak bahwa semua itu untuk mainan, menirukannya memasak dan menghidangkan makanan di meja makan.

“Buat makan mama dan papa kalo sudah tua nanti,” jawab Salsa ringan.

Deg! Maya dan Alfian saling pandang. Jawaban sang anak yang masih polos itu serasa bagai petir yang menyambar telinga, lalu seketika menghentikan denyut jantung dan aliran darah di nadi mereka. Rasa nelangsa memenuhi seluruh ruang dada.

Kenapa Salsa melakukan hal itu?

Ternyata yang dilakukan Salsa adalah hal yang wajar. Ia hanya meniru apa yang dilihatnya. Di rumah, setiap hari ia melihat neneknya makan dan minum dengan peralatan yang terbuat dari plastik. Syaraf-syaraf tangan yang telah lemah membuat jemari ibu kandung Maya itu menjadi tidak bisa kuat memegang benda, sehingga ia sering membuat gelas dan piring yang dipegangnya jatuh dan pecah. Karena itu kemudian Maya dan Alfian sepakat untuk menggantinya dengan alat makan dari plastik.

Mereka berpikir bahwa alat-alat makan dari plastik lebih ringan, sehingga tangan lemah sang ibu tidak keberatan membawanya. Selain itu, alat-alat dari plastik itu tidak pecah jika jatuh. Mereka tidak pernah berpikir tentang perasaan sang ibu saat harus makan dan minum dari alat-alat plastik sementara seluruh anggota keluarga yang lain makan dan minum dengan alat-alat dari kaca.

Ketika mereka (hampir) mendapatkan perlakuan yang sama dari sang anak, mereka baru tahu bahwa itu sangat menyakitkan hati.

Kisah ini memang hanya fiktif, tapi bukan tidak mungkin terjadi di masyarakat kita, meski kejadiannya tidak sama persis. Ada banyak kisah “serupa tapi tak sama”. Kita ambil saja satu contoh seseorang yang telah memiliki rumah sendiri dan orang tuanya ikut dengannya. Sang orang tua ditempatkan di kamar bagian belakang dengan tujuan agar dekat dengan kamar mandi. Alasan itu memang sangat logis, mengingat orang yang usianya sudah lanjut biasanya sering ke kamar mandi, sehingga akan memberatkan jika kamar tidurnya jauh dari kamar mandi. Tapi apakah itu juga berarti cukup etis? Kenapa orang yang paling berjasa dalam hidup kita justru kita tempatkan di belakang, bukan di kamar utama?

Dulu, ketika kita masih bayi, anak-anak, ramaja hingga beranjak dewasa, orang tua kita lebih mengutamakan kepentingan kita daripada kepentingan mereka sendiri. Kita, anak-anak mereka, adalah yang nomor satu, pertama dan utama. Mereka bekerja keras memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan kita. Saat mereka tidak punya uang, mereka rela menahan malu pinjam uang ke saudara atau tetangga, atau bahkan hingga menggadaikan atau menjual barang berharga yang dimilikinya untuk membayar uang sekolah kita. Saat lebaran tiba, baju baru yang pertama kali dipikirkannya adalah untuk kita, bukan untuk mereka sendiri. Bahkan ketika jumlah makanan yang ada terbatas, mereka memberikan makanan itu pada kita. Mereka rela menahan lapar demi agar kita kenyang. Mereka rela menderita demi membuat kita bahagia.

Lalu saat kita sudah dewasa dan bisa mandiri, apa yang sudah kita lakukan untuk mereka? Sudahkah kita cukup berbakti pada orang tua kita?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, lebih dulu kita pahami apakah sebenarnya makna berbakti itu sendiri. Memenuhi kebutuhan mereka? Menuruti kehendak mereka? Mengikuti kemauan mereka dan meninggalkan apa yang tidak disukai mereka?
Semua itu memang tidak salah, hanya saja belum cukup.

Mengikuti kehendak orang tua saja belum tentu berbakti. Bahkan kadang apa yang mereka kehendaki atau perintahkan tidak boleh kita penuhi, jika itu melanggar perintah Allah. Dalam surat Luqman ayat 14 Allah berfirman:

﴿وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا…﴾

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”

Allah melarang kita untuk mengikuti perintah orang tua, jika perintah itu adalah untuk melakukan syirik, menyekutukan Allah. Namun demikian kita tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka.

Lalu apa bentuk konkrit berbuat baik itu sendiri?
Bentuk konkritnya adalah apa saja yang dapat menyenangkan dan tidak menyakiti hati mereka, sikap maupun ucapan. Meskipun telah merawat dan memenuhi semua kebutuhan orang tua, tetapi jika sikap atau ucapan kita tidak berkenan di hati mereka, maka itu belum berbakti namanya. Karena itu kita harus menjaga sikap dan ucapan terhadap orang tua, sebagaimana Allah perintahkan dalam surat Al-Isra’ ayat 23:

﴿…إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا﴾

“…Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai umur lanjut dalam pemeliharaanmu ,maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Jika mengucapkan kata “ah” saja tidak boleh, apalagi bersikap yang lebih kasar atau tidak sopan, tentu itu lebih dilarang.

Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan sikap baik kita setelah ketaatan kita kepada Allah dan rasulNya, dan sebelum kita bersikap baik kepada orang lain. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah menjelaskan dalam sabda beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat:

«يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ»

“Yaa Rasulallah, siapakah orang yang paling berhak atas sikap baikku? Rasulullah menjawab: Ibumu. Sahabat itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Kemudian ibumu. Sahabat itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Kemudian ibumu. Sahabat itu bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: Kemudian ayahmu.” (H.R. Bukhori).

Dari hadits di atas dapat kita lihat bahwa Rasulullah 3 kali mengatakan bahwa ibu adalah orang yang paling berhak mendapatkan sikap baik dari anak, setelah itu ayah. Rasulullah tidak menyebutkan orang lain seperti “gurumu” atau “anakmu” atau “pimpinanmu”.

Kita tahu bahwa kebaikan apa pun yang kita berikan kepada orang tua tidak akan dapat sepadan dengan kebaikan yang telah kita terima dari mereka. Andai saja kita memberikan seluruh harta kita kepada orang tua, juga mengabdikan seluruh hidup untuk mereka, semua itu tetap belum sebanding dengan kasih sayang dan pengorbanan mereka untuk kita. Kita juga tahu bahwa orang tua tidak menuntut balas jasa apa-apa kepada anaknya. Jika demikian, pantaskah kita menempatkan mereka sebagai orang yang ke sekian dalam keluarga kita? Pantaskah kita “main perhitungan” dengan mereka?

Jadi seperti kisah Alfian dan Maya di atas, kenapa mereka tidak memilih untuk tetap memberi sang ibu alat-alat makan dari kaca seperti yang mereka gunakan, lalu membantu membawakannya agar tidak jatuh? Atau menyiapkan semuanya di meja makan agar sang ibu tidak harus repot-repot mengambil sendiri? Atau mengantar makanan ke kamar jika sang ibu sudah sulit untuk berjalan? Atau bahkan menyuapinya jika tangan sang ibu yang sudah lemah dan bergetar itu tidak nyaman untuk makan? Tidakkah dulu waktu kecil ia juga selalu disuapi sang ibu?

Apalah artinya beberapa piring dan gelas yang pecah jika dibandingkan dengan rasa nelangsa yang menyelimuti batin sang ibu…
Tidakkah ia berpikir berapa banyak perabotan ibunya, juga ayahnya, yang telah ia rusakkan ketika ia masih kecil, dan orang tuanya itu tidak pernah mengeluh atau minta ganti?

Juga tentang kamar tidur orang tua. Kenapa tidak dibuatkan kamar mandi di dalam kamar utama saja, lalu orang tua ditempatkan di sana agar lebih layak dan nyaman?
Bukankah semua itu lebih menjaga perasaan mereka?

Orang tua layak untuk menjadi orang nomor satu, yang paling dihormati dalam keluarga kita. Jangan khawatir jika kita melakukan itu maka kita tidak dapat berbuat adil pada anak-anak kita, lalu mereka tidak berbakti pada kita. Justru dengan berbakti pada orang tua, secara tidak langsung kita telah memberikan pendidikan yang baik pada anak-anak kita. Anak-anak akan melihat itu, lalu insyaa’allah mereka akan melakukan hal yang sama, berbakti pada kita.

sumber: Any Andshabell

http://www.facebook.com/group.php?gid=47082679804

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s