“JALAN CINTA DARUSSALAM – 60 Hikmah Menggugah”

NASI DAN AIR

Setiap 12 Rabiul Awal, kaum muslimin di Kesultanan Riak Damai memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw secara meriah. Sultan Abdurrahim menyelenggarakan peringatan maulid itu di Mesjid Agung Kesultanan. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan orang dari seluruh pelosok negeri. Pasalnya, peringatan meulid sudah menjadi tradisi kaum muslimin setempat selain hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan tanggal 10 Muharram.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada peringatan maulid tahun ini pun sultan memberikan hidangan khusus, yakni nasi kebuli, kepada para tahanan selama tujuh hari. Tentu hal ini sangat disyukuri oleh para tahanan. Nasi kebuli adalah makanan yang tidak biasa dimakan orang miskin seperti mereka. Apalagi nasi kebuli istana sangat terkenal kelezatannya di seantero negeri.
“Alhamdulillah, kukira aku tidak akan pernah lagi makan nasi kebuli,” ujar bujang sambil tersenyum.
“Dalam penjara ini enak, Bujang. Setahun sekali sultan memberi nasi kebuliselama tujuh hari. Beliau selalu memperhatikan kami,” Ujar Kumar menjelaskan.
“Aneh, berbeda sekali dengan cerita orang,” ujar Bujang.
“Hai Bujang, aku ingin bertanya,” ujar Kumar
“Bertanya masalah apa?”
“Begini, Bujang. Aku ini dulu seorang perampok dan penjudi. Jika uang haram kupergunakan untuk perbuatan baik dan halal bagaimana Bujang?” Tanya Kumar sambil memakan nasinya.
“Kau tidak boleh melakukan itu, Kumar.”
“Mengapa tidak boleh? Bukankah berbuat baik itu perintah agama?” Tanya Kumar heran.
“Kau tetap tidak akan mendapatkan kebaikan darinya. Justru dengan memcampuradukkan yang haram dan yang halal, kau akan menyesatkan banyak orang,” ujar Bujang menjelaskan.
“Aneh, bukankah lebih baik menggunakan uang haram untuk perbuatan baik daripada menggunakannya untuk kejahatan?” Tanya Kumar yang masih keheranan.
“Hai Bujang. Tolong bawa kesini piring nasimu!” pinta bujang tiba-tiba
Kumar yang masih keheranan menyerahkan piring nasinya ke Bujang. Kemudian Bujang lansung menuang sedikit air ke piring Kumar. Lalu ia mengembalikannya kepada Kumar. Tentu saja Kumar sangat terkejut melihat nasi kebulinya disirami air.
“Hai Bujang. Apa kau sudah gila? Mengapa nasi kebuliku yang setahun sekali ini kau tuangi air? Bagaimana rasanya?!” Tanya Kumar dengan wajah kecewa.
“Hai, Kumar. Jika yang hala dicampur dengan yang halal saja masih terasa tidak enak, bagaiman jika yang halal dicampur dengan yang haram?” Tanya Bujang sambil tersenyum.
“Iya, kau benar. Tetapi, nasiku!” keluh Kumar.
Kemudian meledaklah suara tawa para tahanan lain. Mereka menertawai nasib Kumar yang tidak jadi memakan nasi kebulinya. Namun Bujang segera menukar nasinya dengan nasi Kumar sebagai balasan atas sikapnya. Namun, Kumar sungkan untuk menerina nasi kebuli itu. Bujang terus memaksanya, tapi Kumar terus menolak. Akhirnya, mereka sepakat untuk memakannya bersama-sama.
Cerita-cerita menarik lainnya yang sarat akan makna kehidupan dan penuh pembelajaran dapat anda baca di buku “JALAN CINTA DARUSSALAM”

JUDUL BUKU : JALAN CINTA DARUSSALAM – 60 Hikmah Menggugah
PENERBIT : LINGKAR PENA
PENGARANG : Harlis Kurniawan
HARGA : Rp. 34.500
Dimensi : 326 Halaman; 20.5 cm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s